Rabu, 24 Agustus 2016

Asal Muasal Tahu

Tahu adalah makanan yang dibuat dari endapan perasan biji kedelai yang mengalami koagulasi. Tahu berasal dari Tiongkok, seperti halnya kecap, tauco, bakpau, dan bakso. Nama "tahu" merupakan serapan dari bahasa Hokkian (taohu), yang artinya Tao : Kacang, Hu : Lumat (kacang yang di lumatkan). Tahu telah dikenal di Tiongkok sejak zaman dinasti Han sekitar 2200 tahun lalu. Penemunya adalah Liu An dari distrik Huainan yang merupakan seorang bangsawan, cucu dari Kaisar Han Gaozu, Liu Bang yang mendirikan dinasti Han.


Tahu sudah menjadi makanan yang populer di Asia mulai dari Jepang, Korea, dan juga di negara kita Indonesia. Dan uniknya, meski makanan ini tersebar di berbagai negara di Asia semua negara menyebut makanan ini dengan sebutan yang boleh dibilang hampir sama. Perbedaan dari masing-masing negara menyebut makanan ini dibedakan oleh dialek dan bahasa masing-masing negara saja.



Versi tahu yang dikenal di Jepang adalah tofu. Tofu lebih lunak dan kurang tahan terhadap pengolahan. Pada awal zaman Edo, tahu dianggap sebagai makanan mewah. Oleh karena itu di era zaman dahulu, tidak setiap hari para petani boleh memakannya. Para petani hanya boleh makan tahu saat ada hari-hari perayaan tertentu saja. Mereka menyebut hari-hari itu sebagai Hare-no-hi yang jika diterjemahkan secara harafiah menjadi “Hari terbaik.”

Sedangkan di Indonesia tahu telah mengalami indigenisas, sehingga muncul berbagai varian tahu serta panganan berbahan tahu. Tampilan luar tahu ada yang berwarna putih maupun kuning. Karena populernya, tahu menjadi bagian tak terpisahkan tempat makan berbagai tingkat sosial di Indonesia. Di Kediri tahu kuning menjadi makanan khas yang dikenal sebagai tahu takua. Tempat lain yang juga terasosiasi dengan tahu adalah Sumedang (tahu Sumedang).